Jumat, 25 November 2011

Cara Memilih Karyawan Yang Tepat dan Profesional

| Jumat, 25 November 2011 | 0 komentar



Cara Memilih Karyawan Yang Tepat dan Profesional. Saya sangat terinspiratif dengan kata-kata motivator bisnis yang bernama Johanes Lim . Kalau ingin tau Facebooknya bisa kunjungi link ini Johanes Lim Sang Motivator. Beliau Berkata seperti ini :


Salah satu penyebab kesulitan perusahaan untuk meraih keunggulan daya saing dan profitabilitas bisnis, adalah karena kurang baiknya kualitas dan manfaat sumber daya manusianya; yaitu banyaknya karyawan yang marginal, pasif, tidak produktif, tidak kompeten, dan bahkan berprilaku negatif.Jika ditambah dengan prilaku organisasi yang kurang –atau tidak- perduli terhadap pengembangan dan pelatihan SDM, maka sempurnalah sudah impotensi bisnis semacam itu.Dan tanpa SDM yang berkualitas dan motivational, nyaris mustahil suatu bisnis akan mampu saing dalam pasar bebas, kecuali mendapat perlakuan istimewa dari penguasa, atau terjadi mujizat.Bahkan untuk perusahaan yang mempunyai anggaran besar untuk program pengembangan SDM, mengalami persoalan serupa. Mereka mengeluh bahwa banyaknya dan seringnya para karyawan dilatih dan dididik, baik melalui program pelatihan internal, seminar publik, kursus singkat, sampai kepembiayaan pendidikan kesarjanaan formal, tidak membuahkan hasil yang adekuat.Mereka merasa bahwa “Training or educating is like a waste!”. Banyaknya pengetahuan dan wawasan tentang berbagai teori manajemen bisnis, tidak serta merta membuat kinerja dan prilaku karyawan meningkat. Karyawan hanya termotivasi sejenak, terinspirasi sejenak, tercerahkan sejenak, dan kemudian kembali keprilaku dan kinerja semula.Dulu, ketika saya baru memulai profesi sebagai konsultan dan pelatih bisnis, saya sering mendapat pertanyaan skeptis dari pebisnis, “Are you sure able to improve my employees’ productivity by training program?”Yang tentu saja saya jawab, “Yes, definitely!”Mereka tersenyum kecut dan mengungkapkan isi hatinya, “Dengan cara apa? Kami sudah berkali-kali memanggil trainer yang terkenal, untuk melatih karyawan kami, namun hasilnya… nyaris zero! Lantas, bagaimana caranya anda bisa yakin mampu merubah karyawan yang marginal menjadi the best achiever? By magic spells??!”Dihari kemudian, setelah saya lebih berpengalaman, apalagi setelah lebih dari 15 tahun saya menjadi pelatih konsultatif diratusan perusahaan berbagai skala dan jenis industri, serta telah berinterrelasi dengan ratusan ribu orang yang pernah mengikuti inhouse training dan public seminar yang saya bawakan; serta setelah saya mempelajari dan menguasai Hypno-Therapy (teknik mempengaruhi pikiran orang untuk merubah prilaku, melalui sub-conscious mind re-programming) yang saya pelajari ketika bertugas di New Zealand…., saya baru berempati terhadap pebisnis yang skeptis terhadap manfaat langsung dari pelatihan terhadap perubahan prilaku karyawan dan kinerja bisnis.Saya menyadari dan sependapat bahwa, merubah prilaku orang itu adalah pekerjaan sukar. Merubah karyawan yang marginal menjadi the best achiever juga adalah pekerjaan sukar. Memotivasi karyawan agar mempunyai ‘sense of belonging’ terhadap perusahaan juga adalah pekerjaan sukar.Menurut teori motivasi maupun Hypno-Therapy yang saya pelajari, “Kita bisa memaksa seekor kuda masuk kedalam air, namun kita tidak bisa memaksanya untuk minum!”, atau seperti yang sering saya sampaikan didalam pelatihan, “Saya bisa dengan mudah membuat orang turun tangga, tapi tidak untuk menaiki tangga!”, yang saya jelaskan sambil bergurau bahwa, untuk membuat orang turun tangga, cukup memintanya berdiri ditepi tangga, dan tinggal saya dorong sedikit, maka ia akan jatuh terjungkal turun tangga. Namun untuk naik tangga, seseorang harus mau mengangkat kakinya sendiri; kecuali ia lumpuh atau cacat!Demikianlah dengan prilaku seseorang untuk bertindak. Kita hanya bisa memotivasi dan memintanya untuk melakukan sesuatu, namun apakah ia akan melakukannya ataukah tidak, tergantung dari diri seseorang itu sendiri.Bahkan seorang Hypnotherapist, yang menguasai teknik mempengaruhi pikiran melalui sugesti, tidak mampu melakukan perubahan prilaku kepada pasien, jika pasien itu sendiri tidak mau berubah!Jadi, pesan apakah yang ingin saya sampaikan berkenaan dengan cara merevolusi produktivitas SDM?Yang ingin saya katakan ialah, bahwa program pelatihan saja, dan atau program motivasi saja, jika tidak disertai dengan orang dan situasi yang tepat, tidak akan membuahkan hasil seperti yang diharapkan!Seperti halnya kita tidak bisa memaksa seekor kuda untuk minum air, kitapun tidak akan bisa memaksa seseorang untuk melakukan hal yang tidak ingin dilakukannya!
 Coba terus usahamu agar menjadi lebih dan lebih baik lagi. Semangat .



Baca Juga Artikel Yang Berkaitan



0 komentar:

 
© Copyright 2011. All rights reserved powered by Blogger.com | Template by o-om.com - zoomtemplate.com
ILMU KIETA | Tempat Sharing Dan Bertukar Ilmu | ILMU KIETA